Dituding Perlakukan Buruh Tak Wajar, PT. Tanjung Odi Angkat Bicara

  • Whatsapp
Dedi Ariadi Kasi PGA dan Keuangan PT.Tanjung Odi

Sumenep (17/1/2020) portalpublik.id. – PT. Tanjung Odi yang beralamat di Jl. Pamekasan – Sumenep, Desa Patean, Kecamatan Batuan, Sumenep, Madura, menanggapi tudingan mahasiswa yang tergabung dalam Front Keluarga Mahasiswa Sumenep (FKMS), yang menilai perusahaan rokok terbesar di Madura itu, kurang memperhatikan kesehatan para pekerjanya, bahkan diduga sering melakukan tindakan di luar batas kewajaran.

Kasi PGA dan Keuangan Dedi Ariadi mengatakan bahwa PT. Tanjung Odi merupakan usaha yang bergerak di bidang ketenagakerjaan akan melaksanakan aturan sesuai perundang-undangan.

Read More

Oleh sebab itu, PT. Tanjung Odi akan melakukan koordinasi dengan Dinas Ketenagakerjaan untuk dilakukan pengawasan.

“Kami menyampaikan aspirasi setinggi-tingginya atas apa yang dilakukan FKMS kemarin, di Disnaker Kabupaten Sumenep, sepenuhnya adalah hak warga negara,” ungkapnya

Lebih lanjut Edi mengatakan, dugaan pihak perusahaan tidak memperhatikan kesehatan para pekerjanya dan sering mengancam sehingga terjatuh sakit, menurutnya kurang tepat.

“Kita bagikan secara gratis, itu kewajiban perusahaan, termasuk kelengkapan safety selama bekerja,” katanya

Terpisah, Kepala Disnakertrans Kabupaten Sumenep, M. Syahrial, menanggapi tudingan mahasiswa terhadap nasib buruh PT. Tanjung Odi. M. Syahrial mengaku pihaknya telah melakukan pengawasan terhadap semua perusahaan yang ada di Kabupaten Sumenep, salah satunya PT. Tanjung Odi.

“Jadi kebenarannya masih diragukan, harus dicek lagi, yang jelas kami setiap bulan melakukan pembinaan.” terangnya.

Diberitakan sebelumnya mahasiswa yang tergabung dalam Front Keluarga Mahasiswa Sumenep (FKMS), berunjuk rasa, mengkritisi pihak PT. Tanjung Odi, yang diduga kurang memperhatikan kesehatan para buruh.

Mahasiswa menemukan kasus kelalaian PT. tanjung Odi, di antaranya tidak menyediakan masker kepada para buruh, saat bekerja.

Selain itu Mahasiswa juga mengkritisi perusahaan rokok tersebut soal perlakuan manajemen terhadap buruh yang di luar batas kewajaran, sehingga para pekerja merasa tertekan secara psikologis, bahkan banyak yang berhenti karena mengalami sakit, akibat gangguan pernafasan.

Mahasiswa meminta Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Kabupaten Sumenep, untuk menindaklanjuti kejanggalan yang ada di perusahaan rokok tersebut. (Wd/Rahem/Ofa)