“Gebrakan Meja” Sang Bupati

  • Whatsapp
Oleh ; Abd. Rahem

Menang dalam kontestasi Pilkada dan dilantik sebagai Bupati Sumenep Achmad Fauzi nampaknya langsung tancap gas.

Meski dalam berbagai kesempatan, sosok Bupati Low Profile itu sering mengatakan bahwa tahun pertama dalam kepemimpinannya, adalah melanjutkan program pemerintahan sebelumnya, yakni Bupati Busyro Karim.

Sejak dilantik pada tanggal 26 Fabruari 2021 lalu, Bupati yang didampingi Wakil Bupati Nyai Dewi Khalifah itu, terlihat sangat akrab dengan rakyatnya. Terlihat dalam berbagai kesempatan dari yang bersifat resmi hingga tidak resmi Achmad Fauzi selalu tampak hadir ketengah-tengah masyarakat.

Beberapa hari setelah resmi menjabat sebagai Bupati Sumenep, hanya dengan berpakaian kaos lengan pendek warna putih, bersandal jepit, berpayung hitam, dan tanpa pengawalan Satpol PP, Ia datang untuk melihat langsung peristiwa pohon tumbang akibat hujan deras dan angin kencang, disalah-satu tempat.

Saat itu, ia hanya ingin memastikan tidak ada korban jiwa atau kerugian yang ditimbulkan, dan kecepatan penanganannya.

Selain itu dalam beberapa kesempatan pula, Politisi PDIP itu, sering terlihat bernampilan sangat sederhana dan jauh dari kata mewah layaknya seorang pejabat atau seorang Bupati. Dalam berbagai kesempatan Ia terlihat berpakaian sederhana layaknya seorang santri; Berbaju muslim (Koko warna putih) kopyah hitam, sarungan dan tanpa gengsi bersandal jepit yang harganya (mungkin) tidak lebih dari sepuluh ribu rupiah.

Meski masih terlihat kaku dalam memberikan sambutan resmi, sosok Bupati Achmad Fauzi, terlihat begitu meyakinkan dan menggambarkan sikap optimisme dalam merealisasikan visi misinya untuk memajukan Kabupaten Sumenep, yang secara umum “terbelakang”.

Ada tiga kebijakan yang sangat populis sejak Ia Menjadi Bupati Sumenep. Pertama, mengembalikan aura Keraton Sumenep sebagai satu-satunya sejarah peninggalan raja-raja Sumenep, yakni dengan mewajibkan siapapun yang menginjakkan kaki di Keraton/Pendopo (Rumah Dinas Bupati Sumenep) untuk berpakaian adat, minimal menggunakan Blangkon Madura, dilarang merokok, dan setiap saat diputarkan musik tradisional Madura diareal Keraton.

Kedua, Bupati Achmad Fauzi mengeluarkan Surat Edaran yang berisikan instruksi bagi seluruh ASN dilingkungan Pemkab Sumenep untuk berhenti dari semua aktifitas menjelang Adzan, untuk melaksanakan Shalat Fardlu.

Ketiga, Bupati Achmad Fauzi membentuk Tenaga Ahli untuk percepatan pembangunan dari semua sektor di Kabupaten Sumenep, baik daratan maupun kepulauan.

Dari tiga kebijakan itu, dengan sebenarnya Achmad Fauzi telah “menggebrak meja” kerjanya sendiri untuk memajukan Kabupaten Sumenep.

Maka, gebrakan Meja itu harus dilihat dan direspon sesegara mungkin oleh Kepala OPD, Badan (berikut jajarannya kebawah hingga camat) maupun lembaga Pemerintah Kabupaten Sumenep, sehingga tidak menjadi ”gertak sambal” semata.

Sejumlah persoalan masih menunggu, mulai persoalan kemiskinan, pengangguran yang masih tinggi, hingga ketimpangan sosial yang belum tertangani.

Tiga (Kebijakan) “Gebrakan meja” diatas sejatinya baru starting, belum menyentuh persoalan teknis kebijakan yang wajib diimplementasikan oleh para Kepala OPD.

“Gebrakan Meja” itu wajib diartikan sebagai berubahnya pola pikir baru bagi para pejabat, dari yang stagnan untuk selalu berinovasi, dari yang biasa-biasa saja menjadi luar biasa, dan selalu berkreasi dalam mewujudkan program yang bermuara pada kesejahteraan Masyarakat. Bukan program statis, apalagi copy paste dari tahun ketahun berikutnya.

Sederhanya, pribahasa Madura mengatakan “Mon Sogi Pasoga’ Mon Bagus Pabagas. Tadha’ dhalang adha’ lakona”.

Mari kita tunggu “Gebrakan Meja” berikutnya.

Salam Settong Nyaba.

 

Sumenep, 05 April 2021

Abd. Rahem : Lahir di Sumenep, 05 Mei 1982. Alumni PP. Terate Pandian Sumenep, Ketua Lakpesdam MWC NU Manding dan Jurnalis MNC Grup.