Musim Produksi, Petani Garam Dihantui Rasa Was-Was

  • Whatsapp
Petani Garam di Desa Pinggirpapas, Kecamatan Kalianget.

Sumenep, portalpublik.id – Memasuki musim produksi garam tahun ini para petani garam di Desa Pinggirpapas, Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep tidak seperti biasanya.

Mereka seakan setengah hati menggarap lahan karena sejak tahun lalu harga garam belum berpihak kepada petani.

Bacaan Lainnya

Salah seorang petani garam Suharto mengaku, harga garam KW 1 saat ini hanya Rp 350 ribu per kilogram, sedangkan KW2 Rp 250 per kilogram.

“Harganya sangat murah ini sudah terjadi sejak tahun lalu. Kalau seperti ini terus bagaimana nasib kami,” kata Suharto, Selasa (9/6/2020).

Selain harga yang murah, banyak garam petani hasil produksi tahun lalu yang belum laku terjual. Akibat kondisi tersebut, tidak sedikit petani garam di Kabupaten Sumenep dalam masa produksi kali ini setenga hati menggarap lahan.

“Sekarang sebagian petani garam sudah ragu untuk produksi khawatir harga masih murah. Lahan petani ada yang untuk budidaya ikan sekarang meski harganya juga tidak mahal,” ungkapnya.

Pernyataan senada disampaikan Sahirudin. Dikatakan banyak warga Desa Pinggirpapas yang mengantungkan hidupnya pada produksi garam. Dengan kondisi sekarang masyarakat hanya bisa pasrah.

“Kalau kondisinya seperti ini kita mau bagaimana lagi. Ya hanya pasrah,” ucap Sahirudin.

Ia dan petani garam lain berharap Pemerintah memperhatikan nasib petani garam. Paling penting ada pengendalian harga sehingga petani tidak rugi.

Akibat banyaknya hasil produksi tahun lalu yang belum terjual para petani mengandalkan hidup dengan sisa tabungan. Bahkan ada juga yang harus pinjam.

“Bagaimana Pemerintah untuk mengambil sikap. Kalau seperti ini kita hutang dulu untuk kebutuhan sehari-hari,” pungkasnya.

Akibat murahnya harga garam, banyak petani di Kabupaten Sumenep yang menimbun garam mereka. Seperti di Desa Pinggirpapas hasil produksi garam tahun lalu banyak ditumpuk di pinggir jalan dan lahan pegaraman, (Yd/Hem/Fa).