RSUD Sumenep Ajak Masyarakat Deteksi Dini Penyakit TBC

  • Whatsapp
dr. Reny Irviana Eka Tantri, Sp.P (kiri) saat edukasi deteksi penyakit TBC

Sumenep, portalpublik.id – RSUD dr. H. Moh. Anwar Kabupaten Sumenep, Jawa Timur memberikan edukasi pencegahan dan penanganan Tuberculosis (TBC). Ini dilakukan dalam rangkaian peringatan Hari TBC Sedunia 2021.

Edukasi yang diberikan kali ini tidak secara langsung kepada masyarakat melainkan melalui daring. Tujuannya agar lebih masif dan mencegah terjadinya penularan virus corona.

Read More

Dokter spesialis paru RSUD dr. H. Moh. Anwar Kabupaten Sumenep, dr. Reny Irviana Eka Tantri, Sp.P mengatakan, penyakit TBC sendiri merupakan penyakit paru yang disebabkan mikro bakteri untuk berkolusi. Penyakit ini ada dua macam, yakni TBC di paru dan TBC di Ekstra Paru.

“Jika merasakan gejala segera ke pelayanan kesehatan. Tingkat keparahan TB tergantung seberapa cepat terdiagnosa, semakin awal pasien datang semakin cepat terdiagnosa. Potensi sembuh juga akan semakin tinggi. Bagi yang sudah terlambat, TB di parunya akan semakin berat,” kata dr. Reny, Kamis (25/3/2021)

Menurutnya, pasien TB biasanya lebih sering terjadi pada orang yang memiliki daya tahan tubuh rendah. Misalnya pasien diabetes, autoimun atau HIV. Sementara dari sisi pengobatan, tergantung kasusnya. Kalau TB kasus baru maka pengobatannya ikut kategori

“Pengobatannya pertama pengobatan rutin 6 bulan. Sementara pasien kategori 2, biasanya untuk pasien yang drop out atau putus obat atau yang kambuh kembali. Itu biasanya diberikan dosis obat kategori dua. Pengobatannya tidak sama. Kategori 2 pengobatan diberikan 8 bulan, 2 bulan pertama injeksi dan obat minum. Beda juga dengan pasien yang resisten obat, maka obatnya berbeda,” urainya.

Lebih lanjut ia mengatakan, penyakit TBC bisa menular dari satu orang ke orang lainnya. Penularannya, kata dia biasanya melalui tetesan cair dari batuk orang terinfeksi TBC terhadap orang yang ada di sekitarnya.

“Penularannya melalui droplet, droplet pasien yang batuk bisa menularkan ke orang yang ada di sebelahnya, jika orang yang ada di sebelahnya itu tidak memakai masker,” imbuh dr. Reny.

dr. Reny menyampaikan bahwa Indonesia menempati posisi kedua penderita TB terbesar di dunia. Salah satu penyebabnya, biasanya orang desa menganggap remeh penyakit TB. Banyak pasien yang memiliki gejala batuk di Sumenep tapi tidak memeriksakan diri. Setelah beberapa bulan sambil batuk darah dan sesak nafas baru ketahuan setelah diperiksa.

“Keterlambatan diagnosa membuat semakin berat penyakitnya dan penularan terhadap orang lain menambah jumlah pasien TB. Penyakit paru seperti TB atau asma juga memiliki kerentanan lebih besar untuk tertular Covid-19,” tegasnya.

Untuk itu, dibutuhkan kesadaran masyarakat untuk mendeteksi gejala tersebut sedini mungkin. Jika sudah mengalami gejala, maka harus segera memeriksakan diri ke dokter. Hal ini, selain agar kondisi dirinya tidak semakin parah, juga agar tidak berbahaya menularkan terhadap orang lain. (Yd/Hem/Fa)