Saat Lakukan Bongkar Muat BBM, Kapal Asal Banjarmasin Sempat Diamankan Sahbandar Sumenep

  • Whatsapp
Kapal Tanker Rannisa Jayadi 831 Tanpa LKK dan SIB, Saat Sandar di Pelabuhan Rakyat Desa Pinggirpapas, Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep.

SUMENEP, portalpublik.id – Petugas Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kalianget Sumenep, Madura, Jawa Timur, mengamankan Kapal SPOB (Self Propeller Oil Barge) Rannisa Jayadi 831, saat sedang melakukan bongkar muat Bahan Bakar Minyak (BBM) di perairan Sumenep. Jumat (30/8/2019) lalu.

Kuat dugaan, BBM jenis solar yang sudah ada di dalam kapal tersebut sebanyak 50 ton dan diduga dibeli dari salah satu pengusaha inisial MS, awalnya dikabarkan akan memuat 150 ton.

Kapal yang diketahui berasal dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan itu, diketahui petugas saat bersandar di tambat labuh Desa Kebundadap, Kecamatan Saronggi, Sumenep.

“Kapal ini berasal dari Banjarmasin, kami dapat perintah dari pimpinan untuk memeriksa kelengkapan kapal, setelah diperiksa memang di sana ada kegiatan pemuatan BBM,” terang, Welliyanto, petugas keselamatan berlayar KSOP Kalianget, kepada media ini, di kantornya.

Menurutnya, dasar pemeriksaan yang dilakukan KSOP Kalianget, karena kedatangan kapal tanpa ada pemberitahuan, termasuk aktivitas yang dilakukan di wilayah perairan ujung timur pulau Madura.

“Kapal tersebut tidak melapor ke Syahbandar tentang kedatangannya, kedua tidak melaporkan tentang kegiatan bongkar muatnya,” imbuh pria yang akrab disapa Welli ini.

Setelah dilakukan pemeriksaan, petugas kembali menemukan kejanggalan dari dokumen surat kelengkapan kapal, sehingga diduga melanggar undang undang pelayaran.

“Kapal tersebut ternyata tidak memiliki surat persetujuan berlayar yang dikeluarkan oleh Syahbandar sana, termasuk dokumen yang mereka bawa hanya untuk operasional sungai dan danau, tidak diperuntukkan di lautan lepas, hanya dokumen untuk lokal,” tegasnya.

Dari temuan tersebut di lapangan, awak kapal langsung dibuatkan surat pemeriksaan, untuk proses ke tahap selanjutnya.

“Dua awak kapal kita sudah panggil untuk dibuatkan pemeriksaan, karena ini peraturan dan undang undang yang dilanggar, sangsinyapun berat, kalau sudah tanpa persetujuan berlayar itu melanggar UU pelayaran nomor 17 tahun 2018, pasal 219, sanksi pidana 5 tahun, denda sekitar Rp 400 an juta,” tandasnya.

Namun sayangnya tak lama kemudian kapal sudah tidak ada ditempat, bahkan informasi yang berkembang kapal tersebut melarikan diri. (Red)