Damar Kambhang : Cara Lain Warga Madura Menyibak Tabir Gelap

  • Whatsapp
Oleh: Abd. Rahem*

Damar Kambhang adalah jenis lentera yang terbuat dari kelapa tua, daun siwalan, kapas dan minyak kelapa bekas (Jalanta). Kelapa tua dibelah jadi dua, dan sebelah atau separuh kelapa tua tersebut digunakan sebagai tempat minyak kelapa.

Lalu, daun siwalan dipotong menjadi dua, masing masing berukuran sekitar 4 Cm. Kemudian disatukan lagi (diselipkan) hingga membentuk empat arah dari masing-masing ujung daun. Lalu, ditengahnya dilubangi sebagai tempat kapas, dimana ujung kapas tersebut menjadi sumber api menyala.

Konon, Damar Kambhang dinyalakan dalam ritual masyarakat jawa yang pada waktu itu beragama hindu.

Wali Songo, Sunan Bonang dan Sunan Kudus, dimana metode berdakwahnya selalu memasukkan unsur permainan dan seni-budaya sehingga masyarakat merasa tidak tersinggung, tidak jenuh dan tidak menolak.

Unsur-unsur permainan dan kesenian yang dibawakan Wali Songo memang sederhana, dengan pesan moral dan etika syar’i yang memiliki multidimensi, baik spiritual maupun sosial.

Dalam Kesenian, semisal wayang, gamelan, suluk, dan jelungan, misalnya, pada akhir- nya menjadi defusi penyebaran kebudayaan yang diterima dengan cepat oleh masyarakat setempat.

Hal itu sebagai bagian dari taktik yang diterapkan oleh para wali songo, dalam pertama kali menyebarkan Islam di tanah jawa, yakni dengan Mauidzatul Hasanah, dan dengan mengedapankan Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin.

Kebiasaan menyalakan Damar Kambhang ini, tidak langsung disalahkan atau dilarang, melainkan “dibelok” dan disisipi (ditambahi) dengan Syahadatain, sebagai awal pengenalan kepada Allah SWT dan RasulNya.

Dengan demikian masyarakat jawa pada waktu itu tidak menentang dengan kedatangan agama baru, yaitu agama Islam yang dibawa oleh Wali Songo.

Seiring berjalannya waktu, tradisi menyalakan Damar Kambhang, sampailah di tanah Madura, sehingga menjadi adat istiadat atau budaya yang sangat melekat.

Damar Kambhang biasa digunakan oleh masyarakat madura dalam kegiatan ritual, untuk memulai berbagai kepentingan seperti hajatan atau selamatan.

Damar Kambhang disajikan dalam satu nampan (Gaddhang/talam) disandingkan dengan air kembang (Aeng Bhabur) makanan ringan dengan tujuh warna (Jajan Genna’) dan tujuh nasi tumpeng berukuran kecil (Nase’ Taker) dan abon kelapa (Sekkol Tono), dengan posisi Dhamar Kambhang ditengah.

Setelah, Damar Kambhang disajikan, biasanya Shahibul Hajat sudah mengundang Kyai (Kaji) dan beberapa orang untuk membaca Surat Al-qur’an, bershalawat, berdzikir, dan diakhiri dengan berdoa bersama-sama sesuai permintaan Shahibul Hajat.

Lalu, Dhamar Kambhang ditaru ditempat khusus (kamar) dan tidak boleh ditiup atau dimatikan, sampai api padam sendiri.

Keberadaan Damar Kambhang ditengah-tengah Masyarakat Madura, menjadi keharusan, bahkan tanpa menyalakan Damar Kambhang dalam ritual-ritual tertentu dianggap tidak sah atau tidak sempurna. Sehingga dalam setiap hajat tertentu, manyalakan Damar Kambhang menjadi keharusan, dengan filosofi “Adat Karena Kona, Ta’ kenneng Dina”. (Budaya Lama tidak boleh ditinggal/dihilangkan).

Masyarakat madura meyakini, Damar Kambhang sebagai mediasi dalam mencapai kesempurnaan dan terkabulnya setiap doa kepada Allah SWT. Hal ini tentu saja harus searah dan tidak bertentangan dengan Syariat Islam.

Bagi masyarakat madura, cahaya api dalam Damar Kambhang diyakini sebagai simbol cahaya benderang, penyibak tabir gelap (Paddhang Lomanjar), yang bermuara pada terkabulnya segala hajat atau keinginan, kesuksesan, kesehatan, kelancaran semua usaha, keberkahan, kebahagiaan, dan segala hal kebaikan. Sehingga penggunaan Damar Kambhang diharapkan membawa kesempurnaan.

Wallahu A’lam Bisshawab

Sumenep, 07 Januari 2021

Abd. Rahem : Lahir di Sumenep, 05 Mei 1982. Alumni PP. Terate Pandian Sumenep, Ketua Lakpesdam MWC NU Manding dan Jurnalis MNC Grup.