M A R A H

  • Whatsapp
Oleh: Abd. Rahem*

Dalam berbagai referensi, Marah diartikan sebagai kondisi emosional (jiwa) seseorang, yang ditandai oleh pertentangan sikap, kata, atau isyarat setelah mendapat perlakuan yang dianggap salah, atau tidak sesuai dengan yang diinginkan.

Rasa marah akan timbul, karena didasari perlakuan yang diterimanya sehingga merasa dirugikan, dilukai perasaannya, dibuat malu, atau bahkan merasa tidak dihargai.

Marah adalah sifat naluriah manusia, yang akan tetap ada dan melekat. Rasa marah adalah hal yang wajar dan normal.

Lalu bagaimana dengan sifat pemarah?. Pemarah atau biasa disebut tempramen, adalah kondisi perasaan dan jiwa seseorang yang selalu marah.

Selalu marah ini adalah kondisi psikologi seseorang yang tidak stabil, stres, egois dengan alasan-alasan diluar kewajaran.

Pemarah adalah sifat sekaligus sikap tidak normal seseorang yang didasari perasaan paling benar, bahkan selalu menganggap orang salah.

Sifat pemarah ini biasanya selalu ditandai dengan selalu mengaluarkan kata-kata kasar, menghardik, mencela, mencaci maki, bahkan menvonis seseorang tidak pernah baik, tidak pernah benar, menganggap kebenaran hanyalah miliknya, dan memutlakkan kebenaran hanyalah milik si pemarah.

Pemarah adalah sebagian dari buah kesyirikan atau menyekutukan Allah SWT, Seperti yang dikatakan Gus Mus dalam Puisinya yang berjudul Allahu Akbar.

Allahu Akbar!

Syirik adalah dosa paling besar
Dan syirik yang paling akbar Adalah mensekutukanNya Dengan mempertuhankan diri sendiri Dengan memutlakkan kebenaran sendiri.

Memutlakkan kebenaran sendiri adalah salah-satu ciri lain dari sifat pemarah yang ditandai dengan sikap pongah, yakni menganggap orang lain rendah, enggan meminta maaf dan memaafkan, bahkan menganggap atau menyamakan seseorang dengan binatang. Dengan kata lain, pemarah adalah bentuk lain dari kesombongan.

Menurut Imam Al-Ghazali, marah itu berasal dari setan yang kekuatannya terletak dalam lubuk hati manusia. Marah adalah seberkas api dari neraka Allah SWT, yang menyala-nyala dan membakar hati manusia.

Marah itu tidak bisa dihilangkan begitu saja, tetapi bukan berarti marah tidak bisa dilemahkan. Marah itu dapat dikelola, yakni dengan menempatkan marah sabaik-baiknya (marah sewajarnya), dan membiasakan diri menahan rasa amarah. Sebab marah itu bisa bermanfaat jika diletakkan pada porsinya.

Jika tidak dikelola dengan baik, marah dapat beralih rupa menjadi radikalisme, kalap, hingga mengganggu ketertiban umum, dan menyebabkan ke-tidakstabilan sosial-ekonomi.

Akhir kata,

“لا تغضب ولك الجنة”.
رواه الطبراني

“Jangan marah, maka surga bagimu”
(HR. Thabrani)

Abd. Rahem : Lahir di Sumenep, 05 Mei 1982. Alumni PP. Terate Pandian Sumenep, Ketua Lakpesdam MWC NU Manding dan Jurnalis MNC Grup