Sapi dan Harga Diri Orang Madura

  • Whatsapp
Oleh: Abd. Rahem*

“ Kepemilikan sapi jantan bagi orang Madura sama bernilainya seperti kerbau bagi seorang Jawa: yaitu sebagai simbol kekuasaan dan kemakmuran “ ( Huub de Jonge).

Sapi adalah jenis hewan mamalia atau hewan yang menyusui. Sapi dalam Bahasa Latin disebut Bos Taurus yang jenis makananya adalah tumbuhan (rerumputan).

Sapi bisa dipelihara karena faktor kebutuhan manusia, baik berupa kebutuhan lahiriyah maupun batiniyah. Kebutuhan lahiriyah seperti dibutuhkan susu, daging, hingga tenaganya. Kebutuhan batiniyah, karena sapi tidak hanya dijadikan sebagai penghasilan atau sumber penghidupan, tetapi juga dijadikan hoby dan hiburan.

Di zaman kolonial sapi digunakan sebagai sarana tranportasi. Mereka digunakan untuk mengangkut tebu dari kebun-kebun ke pabrik-pabrik. Di Madura sampai hari ini masih banyak dijumpai, sapi tenaganya digunakan sebagai alat untuk membajak sawah atau ladang.

Tidak hanya itu, tidak sedikit orang Madura yang hingga saat ini masih gandrung dengan satu-satunya budaya di Indonesia, yang terbilang unik, yaitu budaya karapan sapi dan sapi sono’ (Pasangan Sapi betina yang dhias dengan asesoris khusus, sehingga terlihat sepeti pengantin).

Huub de Jonge, salah-seorang peneliti asal belanda mengatakan “ Kepemilikan sapi jantan bagi orang Madura sama bernilainya seperti kerbau bagi seorang Jawa: yaitu sebagai simbol kekuasaan dan kemakmuran “.

Memelihara sapi bagi orang Madura adalah cara tepat untuk menempatkan diri sebagai orang bijaksana, kaya dan terhormat. Sehingga perlakuan orang Madura terhadap sapi peliharaannya sangat hati-hati, seolah-olah, sapi mereka anggap bagian dari anggota keluarga. Bahkan, memelihara sapi melebihi memelihara diri sendiri, dan rumor yang melekat adalah para lelaki dapat memberi perhatian lebih kepada sapi ternaknya daripada istri mereka sendiri.

Sapi bagi orang Madura juga sebagai sumber penghasilan, selain sebagai pembudidayaan dan alat perdagangan, sapi juga berfungsi sebagai simpanan uang jangka panjang, investasi untuk masa-masa yang akan datang. Beternak (mangowan) sapi memiliki nilai sama layaknya menabung uang di bank.

Bagi orang madura, seseorang bisa dikatakan kaya raya ketika memiliki banyak sapi, baik dipelihara sendiri atau dengan cara dipelihara orang lain dengan sistim bagi hasil (epaowan, maro budhu’).

Biasanya, kandang sapi ditempatkan disamping dapur atau diujung halaman rumah, sehingga mudah diawasi dari beranda rumah.

Pencurian sapi atau segala hal yang membuat cacat sapi dalam kasus ini dianggap sebagai pelanggaran serius layaknya perzinahan/perselingkuhan, yang selalu berujung pada carok (pembunuhan).

Alhasil, karena sapi dianggap sebagai simbol kekuasaan dan kemakmuran bagi orang Madura, maka kehilangan anak sapi karena dicuri (kamalengan) adalah kejadian paling sial dan aib dalam hidupnya. Tak jarang, gegara salah-paham atau dicurangi dalam perlombaan karapan sapi, harus berlangsung kekisruhan.

Sapi, bagi orang Madura adalah harga diri yang harus dijaga dan dipertaruhkan dalam segenap jiwa raga. Sebagaimana metafor tentang kuatnya hubungan antara orang Madura dengan sapi, bahwa orang Madura mewakili sosok sapi jantan (Karapan Sapi) yang pongah, kasar, agresif, terlalu bersemangat.

Sebaliknya, orang Madura dikenal sebagai pribadi yang lemah lembut, santun (andhap asor), berbudaya, sebagaimana sapi Sapi Sono’ yang melenggang indah diantara iringan musik Saronen.

Wallahu A’lam Bisshawab

 

Sumenep, 07 Januari 2021

Abd. Rahem : Lahir di Sumenep, 05 Mei 1982. Alumni PP. Terate Pandian Sumenep, Ketua Lakpesdam MWC NU Manding dan Jurnalis MNC Grup.